Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesha 10 Bandung 40132
P +62 22 2501214
F +62 22 2534162
Welcome!
Please Login or Register

Main Menu

  • Home
  • Help
  • Download

 

Academic > Graduate Student > S2 Visual Art

Graduate Student

 First |  Prev 
1 | 2  | 3 
 Next |  Last 
Please click the title to see the abstract and full paper.

  1. Danuh Tyas Pradipta [NIM. 27012011] (Master Program in Visual Art ITB), 2015, KAJIAN BOOM SENI RUPA DALAM MEDAN SENI RUPA KONTEMPORER INDONESIA
    Abstract: Boom seni rupa menjadi salah satu fenomena yang menarik perhatian publik seni rupa di Indonesia, setidaknya dalam beberapa tahun ke belakang. Efek yang dapat segera dilihat akibat fenomena boom tersebut adalah kenaikan transaksi karya seni rupa secara serta merta, diikuti pula oleh kenaikkan harga karya secara signifikan. Oleh karena itu, pembicaraan mengenai boom seni rupa, seringkali hanya berkisar pada isu-isu tentang seniman serta capaian harga karyanya. Padahal, bila melihat boom sebagai hasil interaksi antar pelaku pasar dalam medan seni rupa, maka lebih jauh pembicaraan boom seni rupa dapat mencakup pengaruhnya dalam medan seni rupa Indonesia. Boom seni rupa yang ternyata sudah terjadi beberapa kali dalam medan seni rupa kontemporer Indonesia juga menarik untuk diamati apakah ada perbedaan antar tiap boom seni rupa di tiap periode. Untuk mengamati kedua hal di atas, maka penelitian ini akan melihat boom seni rupa dari sudut pandang sosiologi seni. Boom seni rupa, menjadi berkah bagi para pelaku dalam medan seni rupa Indonesia, terutama dalam hal ekonomi. Namun, di sisi lain pada saat bersamaan, boom juga bisa menimbulkan efek yang negatif bagi medan seni rupa Indonesia. Bisnis lukisan yang hanya sesaat, pencurian dan pemalsuan karya, selera yang tidak beragam, serta tidak jelasnya pola interaksi antar pelaku seni rupa dalam masa boom adalah beberapa contoh efek negatif tersebut. Efek negatif tersebut masih terus berulang terjadi dalam setiap boom seni rupa yang terjadi di Indonesia. Setiap masa boom yang terjadi Indonesia, memperlihatkan perkembangan dalam bentuk kekaryaan secara umum, namun dalam urusan konsumsi seni lukis tetap masih dominan dalam setiap masa boom di Indonesia. Pengaruh terpenting boom terhadap medan seni rupa Indonesia adalah terteralnya pertumbuhan pranata dalam medan seni rupa Indonesia, terutama para pranata yang berhubungan dengan persoalan pasar seni rupa, seperti: seniman, galeri, kolektor dan balai lelang. Namun persoalan yang selalu juga mengiringi adalah mati atau hilangnya sebagian besar pranata tersebut ketika boom seni rupa berangsur-angsur mereda. Kondisi tersebut, menunjukkan hal lain, bahwa pengaruh yang dihasilkan oleh boom seni rupa dapat memperlihatkan medan seni rupa Indonesia sebagai sebuah medan yang belum mantap. Kata Kunci: boom seni rupa; kontemporer; medan seni rupa Indonesia; pengaruh; perbedaan; sosiologi seni.

  2. Mochamad Faisal [NIM : 27012014] (Master Program in Visual Art ITB), 2015, ANALISA VISUAL PADA FILM SELAMAT PAGI, MALAM KARYA SUTRADARA LUCKY KUSWANDI
    Abstract: Film merupakan sebuah bentuk karya visual yang paling diminati oleh khalayak ramai. Selain memiliki fungsi hiburan, film juga berfungsi sebagai bentuk kritik sosial. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, pembuat film seringkali mengangkat tema-tema yang sangat beragam seperti politik, agama, seksualitas dan gender terutama perempuan. Dalam dunia perfilman di Indonesia, perempuan kerap dijadikan objek seksual, kehadiran perempuan dalam film seringkali hanya menjadi menjadi “pemanis” dan juga korban kekerasan yang disebabkan oleh dominasi patriarkis. Bentuk perlawanan dilakukan oleh sutradara-sutradara perempuan yang membuat film dengan menghadirkan perspektif perempuan, membela kepentingan perempuan dan kritik terhadap ketidakadilan gender. Penelitian ini mengkaji film Selamat Pagi, Malam yang merupakan film dengan sudut pandang perempuan yang disutradarai oleh seorang laki-laki. Keberpihakan film ini terhadap perempuan dianalisa berdasarkan rangkaian visual yang menghadirkan tanda-tanda yang mengkritisi praktek diskriminasi gender dan teknik pengambilan gambarnya yang tidak mengeksploitasi tubuh perempuan. Hal-hal tersebut dikaji menggunakan metodologi budaya visual yang menggunakan teori semiotika film yang bertujuan untuk menganalisa dinamika tanda, serta teori male gaze yang bertujuan menganalisa representasi tubuh perempuan. Melalui penelitian yang telah dilakukan, Film Selamat Pagi, Malam mengemukakan sebuah kritik sosial yang membela kepentingan perempuan mengenai diskriminasi gender, yang didukung oleh visual film yang tidak mengeksploitasi tubuh perempuan. Hasil temuan ini diharapkan dapat memberikan penjelasan kepada apresiator, kritikus dan kalangan akademisi bahwa seseorang sutradara dapat menyampaikan pesan dari makna yang terkandung dari visual film, yang dikemas secara komersil dan ringan yang dapat dipahami oleh khalayak ramai. Kata Kunci: Semiotika, Tanda, Male Gaze, Selamat Pagi Malam, Gender, Perempuan.

  3. Michael Binuko Sri Herawan [NIM : 27012005] (Master Program in Visual Art ITB), 2015, MENALAR KHAYAL
    Abstract: “Menalar Khayal” merupakan sebuah proyek karya seni yang mengambil konsep pseudosains dengan menggunakan teknik presentasi yang seolah-olah mengingatkan kita pada ilustrasi atau peraga dalam dunia sains pada masa di mana teknologi fotografi dan digital belum marak digunakan, sehingga untuk menghasilkan sebuah produk visual orang mengandalkan keterampilan tangan. Proyek ini menyuguhkan konfigurasi karya yang tersusun atas beragam ilustrasi dan peraga tentang seekor makhluk fiktif bernama Megaptera novalevitae, seekor paus terbang rekaan penulis. Dengan kata lain, karya ini merupakan konfigurasi imajinasi yang secara visual dihadirkan dengan pertimbangan menyerupai suatu usaha penalaran dalam kaidah saintifik. Proyek ini berangkat dari imajinasi penulis yang memiliki ketertarikan khusus dalam dalam mempelajari dan mengamati permasalahan dalam dunia sains, utamanya biologi dan geologi. Dalam proyek tugas akhir ini, imajinasi atau daya khayal menjadi mesin pendorong utama dalam proses penciptaan karya sekaligus bekal untuk membaca karya-karya yang tersaji di dalamnya. Karya yang disajikan dalam proyek ini mencoba mengilustrasikan eratnya kaitan antara sains dan seni sebagai dua mesin pendorong utama kemajuan peradaban. Dua hal yang selama ini dianggap saling berlawanan bagi kebanyakan orang. Dalam thesis ini, penulis akan menjabarkan segala sesuatu yang berkaitan dengan gagasan di balik penciptaan proyek tugas akhir yang penulis buat, serta melaporkan temuan penulis baik ketika mengerjakan karya maupun ketika melakukan studi yang berkaitan tentang proyek tersebut. (Kata Kunci: Nalar, Khayal, Seni Rupa, Pseudosains, Ilmiah, Imajinasi, Sains, Ilustrasi).

  4. Dea Aulia Widyaevan [NIM: 27012004] (Master Program in Visual Art ITB), 2015, Tubuh-Tubuh Sementara (The Ephemeral Body)
    Abstract: ABSTRAK Pada penulisan karya ini, penulis ingin mengeksplorasi mengenai bentuk karya Ephemeral Art. Ephemeral Art merupakan sebuah genre baru yang dipopulerkan oleh Gustav Metzger melalui DIAS Deconstruction in Art Symposium ,1966. Gerakan ini merupakan bentuk perlawanan dari seni modern yakni pencarian estetika baru di luar bentuk fisik. Secara subject matter penulis memilih tema yang berkaitan dengan kesementaraan dalam proses kehidupan - yakni suatu proses yang menunjukkan ketidak berdayaan kita terhadap waktu. Ephemeral sendiri, memiliki definisi yang mengungkapkan sebuah bagian dari alam, yang lekang dimakan waktu, berkaitan dengan aksi - reaksi pada alam yang sifatnya pasif, alami tanpa adanya intervensi dari manusia/faktor luar. Sehingga,alih-alih membuat sebuah karya yang penuh kepastian harapan akan keabadian, sebaliknya saya mengusung fakta dekomposisi hidup manusia secara banal. Mengusung perasaan grief, mourning, ketimbang resurrection. Untuk itu, sebuah karya yang 'cacat' atau destruktif, mampu merepresentasikan kejujuran fakta tersebut. Dalam hal teknis, penulis pun banyak bermain dengan bahan-bahan alam, sebagai bentuk konsistensi terhadap konsep pengertian Ephemerality Bentuk estetika terlahir dari suatu pengalaman di luar kontrol seniman. Pemilihan material ini, yakni tanah-air, dipilih karena memiliki makna simbolik sesuai dengan subject matter. Proses penghancuran karya, merupakan proses simbolik mengenai transformasi kehidupan manusia akan waktu. Karya berbentuk 'durational installation art', yang mengeksplor transformasi bentuk seiring dengan berjalannya waktu, ever changing object. Interaksi air dan tanah, di desain sedemikian rupa sesuai dengan 4 subject matter yang ditampilkan berdasarkan analisis tema dan konsep: 1) The Dissaperance of Alun-alun Bandung 1930 2) Ephemeral Body 3) Ephemeral Lover 4)Ephemeral Us. Keywords: Ephemeral Art, Gustav Metzger, DIAS, Ephemeral body, Durational Installation art ABSTRAK Pada penulisan karya ini, penulis ingin mengeksplorasi mengenai bentuk karya Ephemeral Art. Ephemeral Art merupakan sebuah genre baru yang dipopulerkan oleh Gustav Metzger melalui DIAS Deconstruction in Art Symposium ,1966. Gerakan ini merupakan bentuk perlawanan dari seni modern yakni pencarian estetika baru di luar bentuk fisik. Secara subject matter penulis memilih tema yang berkaitan dengan kesementaraan dalam proses kehidupan - yakni suatu proses yang menunjukkan ketidak berdayaan kita terhadap waktu. Ephemeral sendiri, memiliki definisi yang mengungkapkan sebuah bagian dari alam, yang lekang dimakan waktu, berkaitan dengan aksi - reaksi pada alam yang sifatnya pasif, alami tanpa adanya intervensi dari manusia/faktor luar. Sehingga,alih-alih membuat sebuah karya yang penuh kepastian harapan akan keabadian, sebaliknya saya mengusung fakta dekomposisi hidup manusia secara banal. Mengusung perasaan grief, mourning, ketimbang resurrection. Untuk itu, sebuah karya yang 'cacat' atau destruktif, mampu merepresentasikan kejujuran fakta tersebut. Dalam hal teknis, penulis pun banyak bermain dengan bahan-bahan alam, sebagai bentuk konsistensi terhadap konsep pengertian Ephemerality Bentuk estetika terlahir dari suatu pengalaman di luar kontrol seniman. Pemilihan material ini, yakni tanah-air, dipilih karena memiliki makna simbolik sesuai dengan subject matter. Proses penghancuran karya, merupakan proses simbolik mengenai transformasi kehidupan manusia akan waktu. Karya berbentuk 'durational installation art', yang mengeksplor transformasi bentuk seiring dengan berjalannya waktu, ever changing object. Interaksi air dan tanah, di desain sedemikian rupa sesuai dengan 4 subject matter yang ditampilkan berdasarkan analisis tema dan konsep: 1) The Dissaperance of Alun-alun Bandung 1930 2) Ephemeral Body 3) Ephemeral Lover 4)Ephemeral Us. Keywords: Ephemeral Art, Gustav Metzger, DIAS, Ephemeral body, Durational Installation art

  5. Monika Ary Kartika Soetjipto [NIM : 27012012] (Master Program in Visual Art ITB), 2015, HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
    Abstract: Kehidupan manusia dipenuhi berbagai hal positif maupun negatif. Kedua hal tersebut merupakan dua sisi yang tak terpisahkan. “Habis Gelap Terbitlah Terang” terinspirasi dari pernyataan RA.Kartini, ibarat dua sisi kehidupan manusia yang paradoks, gelap terang yang tak terelakkan. Banyak peristiwa dalam kehidupan manusia yang awalnya terkesan buruk, namun ketika ada harapan dan usaha, terjadilah kebangkitan. Berkaitan dengan hal tersebut, saya memandang dari sudut spiritualitas dan psikologi. Hal ini dikaitkan dengan pengalaman maternal sebagai wanita yang sedang mengandung dan eksistensinya yang berhubungan dengan pekerjaan keseharian, suami, keluarga, dan lingkungan. Pengalaman mengandung, apalagi yang pertama, dirasakan sebagai suatu berkat yang luar biasa dari Tuhan. Untuk menunjangnya, usaha yang dilakukan dalam aktivitas keseharian untuk memenuhi kebutuhan hidup terus diupayakan. Penantian, persiapan kelahiran bayi, dan doa yang tiada henti dilakukan, memohon kepada Yang Kuasa agar dititipkan bayi yang sehat jiwa raganya. Semua itu dihayati dalam iman. Diwujudkan dalam ekspresi berkarya, iman agar selalu positif dinyatakan pada cara membuat drawing yang pertama-tama kanvas dihitamkan oleh charcoal, lalu dihapus untuk menimbulkan bentukan putih yang terang. Hal ini sesuai dengan istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kata kunci : paradoks positif dan negatifnya hidup, eksistensi wanita sudah menikah dan sedang mengandung, maternal, drawing hitam putih, elemen bentuk realis dan imajinatif pada komposisi

  6. IQBAL PRABAWA WIGUNA Supervisor [NIM : 27012009] Dr. A. Rikrik Kusmara, M.Sn. dan Dadang Sudrajat, M.Sn. (Master Program in Visual Art ITB), 2015, Bulan Sebagai Ruang Mimpi
    Abstract: Abstrak. Kita sebagai masyarakat modern seringkali membenamkan diri dalam rasionalitas dari sains dan turunannya, yaitu teknologi modern. Sementara yang kita butuhkan sebenarnya adalah integrasi dari mitos besar yang hebat mengenai alam (dongeng, folklore) dan bagaimana alam tampil di hadapan kita melalui sains modern. Melalui narasi kita mendekati alam dengan dua cara, yaitu dengan cara rasional dan cara inner (pendalaman)/spiritual. Dengan perhatian khusus pada kosmologi yang bersifat spekulatif dan imajinatif, kita berusaha membuat sebuah pola baru untuk mengembalikan seni dan spiritualitas ke dalam dunia sains modern. Kemampuan teknologi saat ini yang dimiliki manusia memungkinkan untuk untuk menjelajah tata surya. Cara pandang kita terhadap alam, terutama objek luar angkasa seperti Bumi yang merupakan planet kita sendiri, bulan sebagai satellitnya dan tata surya pun menjadi berbeda, terlebih dengan pengaplikasian teknologi di dalamnya yang memudahkan kita untuk mengenali pola-pola di alam dan semesta. Dengan dibuatnya karya ini, penulis berharap dapat memperluas imajinasi dan untuk menginterpretasikan keindahan dan harmonisasi yang ada pada alam semesta. Karya ini juga menampilkan sisi lain dari pikiran bawah sadar manusia dalam memandang objek luar angkasa yaitu bulan. Keywords: Harmoni alam, Mitos, Pola, Sains, Somnium.

  7. Banon Gilang [NIM : 27012013] (Master Program in Visual Art ITB), 2015, HOPENG SAHABAT SAHABATKU DARI ETNIS TIONGHOA
    Abstract: Isu rasisme di Indonesia belakangan sudah sangat jarang ditemui dalam kehidupan sehari – hari. Namun bukan berarti hal tersebut telah hilang sepenuhnya. Konflik yang dulu tajam kini telah berubah menjadi konflik idealisme. Dimana masyarakaat kini hidup dalam prasangka dan stereotip. Dalam kehidupan sehari – hari, etnis Tionghoa memang sudah banyak yang membaur dengan warga non-Tionghoa. Namun dalam hubungan baik tersebut masih dapat dirasakan adanya jurang pemisah diantara keduanya. Hal tersebut yang penulis angkat dalam proyek tugas akhir ini, dimana penulis sebagai warga non-Tionghoa menceritakan teman – teman penulis yang berasa dari etnis Tionghoa, dengan menggambarkan potret keseharian dan menceritakan segala hal yang unik dari mereka dan juga konflik – konflik apa yang ada dalam kehidupan kami sehari – hari. Dengan menggunakan pendekatan kerkaryaan melalui foto dokumenter dan proses wawancara, penulis mencoba mengangkat permasalahan tersebut dari sisi yang halus, hangat dan personal, namun tetap mampu merepresentasikan realitas yang terjadi di sekitar mereka dan mampu dipahami oleh orang lain. Kata kunci: Fotografi seni, Tionghoa, Konflik Rasial, Foto Dokumenter, Personal, Hopeng

  8. Muhammad Rahman Athian [NIM : 27012002] (Master Program in Visual Art ITB), 2015, DISPLAY PAMERAN MANIFESTO 2014 DI GALERI NASIONAL INDONESIA
    Abstract: Galeri Nasional Indonesia merupakan sebuah lembaga nirlaba yang bernama “galeri” meski memiliki peran sepenuhnya sebagai museum seni rupa. Sebagai satu-satunya sebuah museum seni rupa kontemporer milik negara penulis mengasumsikan bahwa pameran Manifesto 2014 melakukan display dengan mengesampingkan standar display. Dari asumsi tersebut melihat adanya masalah yaitu 1) Bagaimana sistem presentasi (display) pameran Manifesto 2014 di Galeri Nasional Indonesia? Dan 2) dari hasil analisis pameran Manifesto 2014 tersebut, bagaimana proses penyampaian pesan konsep pameran terhadap pengunjung Galeri Nasional Indonesia? Dalam penelitian ini dibatasi dalam analisis display pada pameran Manifesto 2014 dengan menggunakan teori display formal (deskripsi karya dan analisa peletakannya) untuk menemukan struktur display pameran Manifesto 2014, apa yang menyebabkan display tersebut, dan bagaimana proses penyampaian pesan dari pameran Manifesto 2014 kepada pengunjung. Seluruh display dalam pameran Manifesto 2014 telah melalui proses desain pameran, hanya saja dalam pemasangannya tidak mutlak mengikuti desain, hal ini dikarenakan pengumpulan beberapa karya seniman yang terlambat dan berakhir pada susunan model display Kombinasi. Pada kasus tertentu di ruang A4, C5 dan C6 kurator menggunakan model display dengan kedekatan visual dalam bentuk warna namun dengan ukuran yang berbeda. Penyampaian pesan Manifesto 2014 telah memenuhi teori komunikasi standar yaitu; pengunjung diharapkan mampu memahami isi pameran dengan tema “keseharian” (seniman muda) dalam berkarya hal ini dikarenakan dari segi visual, konsep, display dan medium karya pada pameran ini sangat bervariasi. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa secara keseluruhan display sudah memenuhi standar display Internasional hal ini dibuktikan dengan setiap ruangan pajang dalam pameran Manifesto 2014 sudah memenuhi vista distance dengan 25% atau kurang ruang untuk 3d dan 65-75% untuk 2d. Selain itu banyaknya ruang di Galeri Nasional Indonesia yang tidak terlihat (blind spot) seharusnya membutuhkan lebih banyak sign system yang jelas. Kata Kunci : Display, Galeri Nasional Indonesia, Manifesto 2014, Pameran.

  9. Edward Bonaparte (Magister Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung ), 2015, Allegory of Mind
    Abstract: Despite popular misconception, we do not see a direct representation of external reality, but a translation of information formed by our senses and mind. Reality may never be entirely defined because it is based on perception and interpretation. If the boundaries and limits of perception, interpretation and cognition are not well defined, concepts and theories may turn into dogmas and illusions of understanding. In the complexity of the universe and limited knowledge, the ravages of intoxication are transfigured by dreams, the sublime is beautified by the veil of appearances. We glorify the distraction of reality, we create art to beautify life by interposing a veil of lies between us and truth about the world that we cannot bear. The main idea is to create an artwork that can expand the allegorical world of paintings into our world. The atmosphere are designed to capture most of the human senses and direct their mind to the unknown reality of the metaphysic world. The artworks is not a composition of answers, but a composition of questions. It’s not aimed to give a certainty feelings for the observer, instead it creates a sacred atmosphere of distrust, where everything we see hides another thing.

  10. Sandi Jaya Saputra [NIM : 27012008] (Master Program in Visual Art ITB), 2014, TAK ADA YANG TERBAYANGKAN
    Abstract: Dalam tugas akhir ini penulis membedah keseharian yang personal, yaitu objek kamarkos penulis.Tujuannya adalah untuk merepresentasikan identitas dan ruang penulis dari realitas keseharian, lalu menghubungkannya dengan narasi modernitas.Identitas dan ruang itu dibentuk oleh struktur dan superstruktur .Struktur dipahami sebagai sesuatu hal yang remeh temeh tapi material, yakni benda-benda keseharian yanga krab dengan penulis.Sementara super struktur dipahami sebaga iwacana yang ideologis dan abstrak, sebagai penggambaran dari ruang ketiga seperti kusen, tembok dan lainnya. Dalam membedahi dentitas dan ruang ketiga, serta hubungannya dengan struktur dan superstruktur, penulis menggunakan pendekatan foto dokumenter. Pendekatan ini diyakini sebagai cara yang paling tepat, karena dalam foto dokumenter mampu mengurangi indeks akan sebuah realita mengenai keseharian dalam kamar kos penulis. Dalam tugas akhir ini, penulis menunjukan relasi praktik keseharian yang remeh temeh dengan wacana besar modernitas. Atas kondisi tersebut, diharapkan adanya proses nyata yang saling berhubungan antara seniman dengan medium fotografi seni dan masyarakat.

Search 

Login

Email:
Password:
Click here to register

All materials are accessible, except stated otherwise. The rights for publication are hold by each respected authors. If there is any infringement of copyrights to be found, the manuscript will be revoked immediately from the repository and will not be available for access.

The repository publishing team do not responsible for the contents of any published materials.
Total visitors
37960

Today's visitors
1